 |
| Add caption |
Malu aku malu
Pada semut merah
yang berbaris di dinding
manatap ku curiga seakan
penuh tanya
Sedang apa di sini?
Menanti pacar jawabku…
Kisah-kasih di sekolah
tak akan terlupa
Tiada kisah paling indah
Kisah kasih di sekolah
Tiada masa paling indah
Masa-masa di sekolah.
Penggalan lagu dari Obie Mesakh seakan mewakili hati saya untuk menulis
tentang sebuah kenangan di sekolah. Masihkah kita menyimpan album foto
kenangan semasa sekolah ?. Saat masih jadi remaja yang lincah, enerjik
dan ceria.
Kenangan masa sekolah kita yang tak lepas dari teman-teman, guru dan tempat kita belajar dahulu.
Teman-teman dimanakah mereka sekarang. Sudah jadi apa, sudah seperti
apa, sudahkah kini berjambang, kumisan, anaknya berapa, bahkan apa sudah
pada ubanan….hehehe. Perjalanan waktu pasti berpengaruh pada perubahan
seseorang. Tak lepas juga teman-teman kita saat di sekolah dulu.
Kemanakah dulu si Agus yang sekolah selalu telat, Munaroh yang rambutnya
selalu di kepang panjang, selalu di kata sebagai pendekar kungfu China,
Kemanakah Novi yang dulu mendapat julukan dari guru Sejarah, pak
Nanang, dengan panggilan si Tompel. Karena tahi lalat di atas bibir yang
meraksasa.
Si Iwan Penthol yang dulu pernah naksir Titik. Si Aminudin yang menyukai
Palupi dan mendapatkan balasan surat bertuliskan tinta merah, sebuah
warning penolakan yang drastis. Kemanakah Hartono yang dulu kerjaanya
suka sekak dan main remi tiga puluhan saat jam-jam mata pelajaran sedang
kosong.
Kenangan tentang sebuah sekolah, kita dapat memahami jika banyak di
antara kita yang selalu masih membekas. Tak bisa terkikis begitu saja di
telan perubahan jaman dan waktu. Karena sebuah jaman memberi masanya
tersendiri, membawa kenanganya tersendiri, membawa modelnya tersendiri,
membawa gaya rambut, lagu yang populer, sedang di gandrungi di antara
jaman itu, tas, pita untuk anak cewek, bahkan pula sepatu.
Siapakah di antara teman yang kita senangi dan kita favoritkan di hati
kita. Pasti pernah terselip perasaan itu. Pada teman sendiri yang kita
kagumi baik karena wajah, gaya rambut, modelnya yang selalu rapi, karena
nilai prestasi dan juga karena dapat kita palak i saban
hari…..hehehe(kalau ini untuk murid yang selevel bandit).
Siapa murid paling kita benci dengan tingkahnya yang menyebalkan.
Melihat gayanya, tingkah lakunya, bahkan karena juga persaingan
mendapatkan perhatian dari murid lawan jenis. Melihat kelebatanya saja
sudah meledak dada ingin mengguncing ke teman-teman lain. Bahwa si itu,
si anu polahnya menjengkelkan. Dan mungkin kini setelah berlalu lama
masa sekolah, kita merindukanya kembali, kemanakah dia sekarang. Sudah
berubahkah dia, apa tetap saja menjengkelkan seperti dulu….hmm.
Pertemanan dan keceriaan di masa sekolah yang tak pernah sepi dari
candaan, gelak tawa, olok-olokan. Ada kejadian menarik, dan ini mungkin
yang paling “menjengkelkan”. Ketika itu jaman memanggil teman sekolah
dengan sebutan nama panggilan ayahnya. Sebut saja, si Totok, punya bapak
bernama Syaiful. Dengan panggilan perkosa tentunya, bukan nama Totok
yang menjadi panggilan akrab di sekolah namun nama bapaknya, yang
bernama Syaiful. Yang akhirnya berbalas pantun untuk menyelidiki nama
bapak masing-masing. Namun tak ada yang memanggil dengan sebutan nama
ibu, masih takut gak punya akses masuk surga kali, hehehe. Ketika itu,
Totok sedang terlambat masuk kelas, langsung nyerocos mulut si Anna,
“Waduh Saiful kesiangan, tadi malam kemana saja Ful-Ful,…” Celoteh Ana
pada Totok di depan kelas di samping ibu guru, meledaklah tawa seisi
ruang kelas. Sedang Totok hanya menunduk malu karena ada Bu Anni di
bangku guru. Sambil dia memberi isyarat kepalan tangan pada Ana. Yang di
balas dengan juluran lidah. Dengan jari membeliakan kedua mata pula,
begini ; “wek !”
Itulah sebuah kenangan di jamanku, di jaman pemanggilan nama teman
dengan panggilan bapaknya, sungguh kurang ajar dan tak patut, namun
menggelikan.
Panggilan itu hanya sebatas pada teman-teman sekolah. Dan mulut si Ana
yang suka nyerocos sekarang sudah berada di mana, siapa suaminya.
Anaknya berapa ataukah justru sudah bersuami Totok, yang dulu selalu di
olok-olok.
Kisah cinta diantara teman sekelas yang selalu gagal dan menjadi
guncingan. Sampai ada mitos di sekolahku gak boleh ada yang pacaran
sesama satu kelas karena akan mendapat kutukan putus di tengah jalan.
Yang akhirnya menjadi bahan perbincangan dan gosip harian. Ini yang
sungguh membuat sebel, jika sudah putus, teman sedikit banyak tahu
pernah pacaran, jika ada kegiatan atau sedang maju kedepan mengerjakan
soal dan tidak bisa, mantan pacar yang selalu di sebut-sebut dan di
sindir untuk membantu. Atau di investigasi, “Di apain saja sehingga
tidak pernah menggarap pekerjaan rumah” yang di berikan oleh guru.
Begitulah catatan tentang sedikit kenangan masa-masa sekolah saya , yang
terkesan jadul banget. Namun masih tetap berkesan hingga sampai nanti
sudah pada tua.
Teman sekolah adalah teman kenangan, terutama untuk murid SMA. Dimana masa sedang mekar dan bertumbuh.
Maka itu masihkah kita menyimpan album kenangan masa sekolah kita. Untuk
menerawang kembali masa-masa remaja yang pernah hinggap. Belajar,
berkumpul, bercanda, berpacaran, dan membenci. Seolah semua indah dan
tak ada kata terlarang di masa itu, walau rambu-rambu peraturan setiap
hari selalu di semburkan oleh orang tua dan bapak-ibu guru.